Bukan Sekadar Bicara, Sumberejo Bekali Tokoh Masyarakat dengan Seni Sesorah
Rifki Ari Ansyah 30 September 2026 10:31:31 WIB
SUMBEREJO, SEMIN, GUNUNGKIDUL — Upaya memperkuat kemampuan masyarakat dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa sekaligus menjaga keberlangsungan budaya lokal terus dilakukan Pemerintah Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Salah satunya melalui Pelatihan Sesorah yang digelar di Aula Kalurahan Sumberejo, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh unsur tokoh masyarakat Kalurahan Sumberejo dan dihadiri Lurah Sumberejo, para Dukuh se-Kalurahan Sumberejo, serta peserta pelatihan. Pelatihan menghadirkan Suseno Aji, pelaku seni sekaligus pegiat seni dan kebudayaan di Kapanewon Semin, sebagai narasumber.
Pelatihan sesorah menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dengan menggunakan bahasa Jawa secara baik, santun, runtut, dan sesuai unggah-ungguh. Kemampuan tersebut dinilai penting, terutama bagi tokoh masyarakat yang dalam berbagai kesempatan sering tampil menyampaikan sambutan, memberikan pengarahan, memimpin kegiatan kemasyarakatan maupun menjadi bagian dari acara adat dan budaya.
Selain aspek kemampuan berbicara, pelatihan juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya Jawa di tengah perkembangan komunikasi masyarakat yang semakin dinamis. Bahasa, tata krama, serta etika dalam bertutur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Jawa.
Dalam sambutannya, Lurah Sumberejo, Sudirman, menyampaikan bahwa pelatihan sesorah memiliki nilai penting bagi masyarakat karena kemampuan berbicara di depan umum tidak hanya berkaitan dengan keberanian, tetapi juga menyangkut tata bahasa, etika, penyampaian pesan, dan penghormatan kepada orang lain.
Menurutnya, tokoh masyarakat memiliki posisi strategis dalam kehidupan sosial di tingkat padukuhan maupun kalurahan. Karena itu, kemampuan menyampaikan gagasan secara baik dan santun perlu terus dikembangkan.
“Pelatihan sesorah ini bukan sekadar belajar berbicara di depan orang banyak. Di dalamnya terdapat pembelajaran mengenai unggah-ungguh, tata krama, bagaimana menyampaikan maksud dengan bahasa yang baik, serta bagaimana menghormati orang yang menjadi lawan bicara maupun masyarakat yang mendengarkan,” ujar Sudirman dalam sambutannya.
Ia berharap peserta dapat mengikuti pelatihan secara sungguh-sungguh dan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan saja. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Sudirman juga menekankan bahwa tokoh masyarakat, Dukuh, maupun unsur masyarakat lainnya sering menjadi representasi lingkungan ketika menyampaikan sambutan dalam kegiatan resmi, sosial, maupun budaya.
“Kami berharap setelah mengikuti kegiatan ini, peserta semakin percaya diri ketika harus menyampaikan sambutan atau sesorah. Yang paling penting adalah pesan dapat tersampaikan dengan jelas, bahasa yang digunakan tepat, dan tetap mengedepankan unggah-ungguh serta nilai-nilai budaya Jawa,” lanjutnya.
Menurut Sudirman, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seni atau upacara tradisional. Penggunaan bahasa Jawa yang baik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam forum masyarakat, juga merupakan salah satu bentuk nyata menjaga warisan budaya.
Sementara itu, narasumber pelatihan, Suseno Aji, yang merupakan pelaku seni sekaligus pegiat seni dan kebudayaan di Kapanewon Semin, memberikan pemahaman mengenai teknik dasar sesorah.
Ia menjelaskan bahwa sesorah pada dasarnya merupakan kemampuan menyampaikan gagasan, informasi, ajakan, maupun pesan kepada orang lain secara lisan dengan menggunakan bahasa yang tepat dan memperhatikan situasi serta siapa yang menjadi pendengar.
Dalam praktiknya, seorang yang melakukan sesorah tidak cukup hanya menguasai bahasa Jawa. Pembicara juga perlu memahami materi yang akan disampaikan, menyusun alur pembicaraan, mengatur intonasi, memperhatikan sikap tubuh, serta mampu membangun komunikasi dengan audiens.
“Sesorah itu membutuhkan persiapan. Sebelum berbicara, kita harus memahami apa yang akan disampaikan, kepada siapa kita menyampaikan, dalam acara apa, dan bagaimana bahasa yang sesuai dengan suasana tersebut,” terang Suseno Aji.
Ia menyampaikan bahwa struktur sesorah secara umum perlu disusun secara runtut agar pendengar mudah memahami pesan yang disampaikan. Bagian pembukaan dapat diawali dengan salam atau ungkapan penghormatan, kemudian dilanjutkan dengan mukadimah dan penyampaian maksud. Setelah itu, pembicara masuk pada pokok materi sebelum menutup sesorah dengan kesimpulan, harapan, permohonan maaf, dan salam penutup sesuai konteks acara.
Seno Aji juga memberikan perhatian terhadap unggah-ungguh basa, yakni penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa yang disesuaikan dengan lawan bicara, situasi, dan konteks kegiatan.
“Bahasa Jawa mempunyai tata krama. Karena itu, ketika sesorah jangan hanya memikirkan kalimatnya bagus atau tidak, tetapi juga harus mempertimbangkan kepada siapa kita berbicara. Pemilihan kata harus sesuai dengan situasi dan menghormati orang yang kita ajak berkomunikasi,” jelasnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diarahkan agar tidak menganggap sesorah sebagai kegiatan menghafalkan teks semata. Kemampuan sesorah membutuhkan pemahaman terhadap isi dan kemampuan mengolah pesan sehingga penyampaian terdengar alami.
Menurut Seno Aji, pembicara yang hanya mengandalkan hafalan berpotensi mengalami kesulitan apabila lupa terhadap salah satu bagian materi. Sebaliknya, apabila seseorang memahami pokok persoalan yang akan disampaikan, ia akan lebih mudah mengembangkan kalimat sesuai kondisi.
Karena itu, peserta didorong untuk terlebih dahulu memahami tema, tujuan, sasaran pendengar, dan pokok-pokok pesan sebelum menyusun materi sesorah.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika seorang tokoh masyarakat harus menyampaikan sambutan secara spontan dalam kegiatan sosial, pemerintahan, keagamaan, maupun kebudayaan.
Menjaga Bahasa Jawa di Tengah Perubahan Zaman
Pelatihan sesorah juga memiliki dimensi lebih luas sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal. Bahasa Jawa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga membawa nilai kesopanan, penghormatan, dan tata hubungan sosial yang berkembang dalam masyarakat.
Perubahan pola komunikasi, perkembangan teknologi digital, serta penggunaan bahasa yang semakin beragam membuat kemampuan menggunakan bahasa Jawa secara tepat perlu terus dikenalkan kepada generasi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, kegiatan pelatihan tidak hanya diarahkan agar peserta mampu berbicara dalam bahasa Jawa, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di balik penggunaan bahasa tersebut.
Suseno Aji mengajak peserta untuk menjadikan kemampuan sesorah sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat.
“Budaya akan tetap hidup apabila digunakan. Jangan sampai bahasa dan tata krama hanya dipelajari ketika ada acara tertentu. Mari kita biasakan menggunakan bahasa yang baik, santun, dan sesuai dengan situasi. Dari kebiasaan itu, budaya akan terus diwariskan,” katanya.
Tokoh Masyarakat Diharapkan Menjadi Contoh
Peserta yang berasal dari unsur tokoh masyarakat memiliki peran penting dalam meneruskan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan. Mereka diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam penggunaan bahasa dan etika komunikasi.
Dalam berbagai kegiatan di padukuhan, tokoh masyarakat sering berada di posisi yang membutuhkan kemampuan komunikasi publik. Mulai dari menyampaikan sambutan dalam pertemuan warga, kegiatan sosial, acara adat, hingga kegiatan resmi pemerintahan.
Dengan kemampuan sesorah yang lebih baik, pesan yang disampaikan diharapkan dapat diterima masyarakat secara lebih jelas sekaligus tetap mencerminkan nilai kesantunan.
Pemerintah Kalurahan Sumberejo juga menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari penguatan kapasitas masyarakat. Pelatihan tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memiliki kepedulian terhadap keberadaan bahasa dan kebudayaan lokal.
Dari Sumberejo untuk Pelestarian Budaya
Pelatihan Sesorah di Aula Kalurahan Sumberejo pada Rabu (30/9/2026) menjadi salah satu bentuk nyata keterlibatan masyarakat dalam menjaga budaya Jawa melalui kemampuan komunikasi.
Kehadiran Lurah, para Dukuh se-Kalurahan Sumberejo, tokoh masyarakat, serta pegiat seni dan kebudayaan menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk melalui peningkatan keterampilan masyarakat.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pelatihan satu hari. Pengetahuan tentang sesorah, unggah-ungguh basa, teknik berbicara, dan tata cara menyampaikan pesan dapat terus dipraktikkan dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Pada akhirnya, kemampuan sesorah bukan hanya tentang bagaimana seseorang berbicara di depan orang banyak. Lebih dari itu, sesorah menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan, menjaga tata krama komunikasi, mempererat hubungan sosial, serta turut mempertahankan identitas budaya Jawa di tengah perubahan zaman.
Melalui pelatihan tersebut, Pemerintah Kalurahan Sumberejo mendorong agar bahasa, seni, dan budaya tidak sekadar dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap hidup dan digunakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
- Gandeng Dispussip Gunungkidul, Perpustakaan Sumberejo Gelar Pendampingan Akreditasi
- Ayo Warga Gunungkidul! Kawal Bantuan Sosial Lewat Portal Perlinsos
- Bukan Sekadar Bicara, Sumberejo Bekali Tokoh Masyarakat dengan Seni Sesorah
- Bupati Gunungkidul Tinjau Langsung Warga Bangun Talud Sungai di Tulung Sumberejo
- 1.219 KPM Sumberejo Terima 36,57 Ton Beras Bantuan Pemerintah
- Musrenbangkal Sumberejo Bahas RKP Kalurahan 2027, Perencanaan Pembangunan Didorong Tepat Sasaran
- PERKUAT EKONOMI LOKAL, BUMKALMA "BERKAH MANFAAT" SEMIN GELAR PENINGKATAN KAPASITAS KELEMBAGAAN
Komentar Terkini
-
WAHYU WIDAYAT
Pemerintah Kalurahan Sumberejo melalui Bp Ibu duku...baca selengkapnya
07 April 2021 12:05:40 WIB
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Total Visitor | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |














