Ketika Desa Bergerak, TBC Tak Lagi Punya Ruang :Bersama Akhiri Tuberkulosis dari Kalurahan Sumberejo

Rifki Ari Ansyah 13 Agustus 2026 11:42:10 WIB

Senin pagi, 10 Agustus 2026, Balai Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul, tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya warga. Di ruang itu, sebuah pesan penting tentang kesehatan masyarakat kembali ditegaskan: mengakhiri Tuberkulosis (TBC) bukan pekerjaan pemerintah semata, melainkan gerakan bersama yang dimulai dari lingkungan terdekat.

Sosialisasi pencegahan dan penanggulangan penyakit TBC digelar dengan menghadirkan Anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul Fraksi Gerindra, Eckwan Mulyana, S.E., dan Anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul Fraksi PDI Perjuangan, Untung Ardiyanto, S.A.P. Kegiatan tersebut juga menghadirkan Dr. Yuyun Ika Pratiwi, M.P.H., Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Zoonosis Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, bersama Puskesmas Semin II, Pamong Kalurahan Sumberejo, kader kesehatan, serta pengelola Perpustakaan Sumber Ilmu Kalurahan Sumberejo.

Pertemuan itu membawa satu tujuan yang sederhana, tetapi sangat menentukan: membuat masyarakat lebih mengenal TBC agar mampu mencegah, menemukan, dan mengobatinya sampai sembuh.

Pesan tersebut menjadi semakin penting karena TBC masih merupakan salah satu tantangan kesehatan terbesar dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 10,7 juta orang jatuh sakit akibat TBC pada 2024, sementara sekitar 1,23 juta orang meninggal akibat penyakit tersebut. Indonesia termasuk delapan negara yang secara bersama-sama menyumbang sekitar dua pertiga kasus TBC dunia pada 2024.

Angka tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai statistik di laporan kesehatan. Di balik angka terdapat manusia, keluarga, pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sosial yang dapat terganggu ketika TBC tidak ditemukan dan ditangani secara tepat.

TBC Bukan Sekadar Batuk

TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi dapat pula menyerang organ tubuh lainnya. Penularannya terutama terjadi melalui udara ketika seseorang dengan TBC paru menular batuk atau bersin sehingga partikel yang mengandung bakteri dapat terhirup oleh orang lain.

Karena itulah, batuk yang tidak kunjung sembuh tidak seharusnya dianggap sebagai keluhan biasa.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa gejala TBC antara lain batuk yang berlangsung sekitar dua minggu atau lebih, demam atau meriang berkepanjangan, berkeringat pada malam hari, berat badan menurun, nafsu makan berkurang, sesak napas, nyeri dada, hingga dahak yang dapat bercampur darah. Pada anak, gejalanya dapat lebih sulit dikenali sehingga perhatian orang tua dan keluarga menjadi sangat penting.

Di sinilah persoalan TBC sering kali bermula: gejala dianggap sepele, pemeriksaan ditunda, dan kesempatan menemukan penyakit lebih awal ikut hilang.

Padahal, semakin cepat kasus ditemukan dan mendapatkan pengobatan yang tepat, semakin besar peluang untuk memutus rantai penularan sekaligus mencegah kondisi penyakit menjadi lebih berat.

Dari Balai Kalurahan, Pesan Kesehatan Dibawa Pulang

Sosialisasi di Kalurahan Sumberejo memperlihatkan bahwa perjuangan melawan TBC tidak harus selalu dimulai dari rumah sakit. Ia dapat dimulai dari balai kalurahan, forum warga, posyandu, kelompok kader, perpustakaan, bahkan dari percakapan sederhana antartetangga.

Anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul, Eckwan Mulyana, menekankan pentingnya kader kesehatan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Kader, menurutnya, memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan yang membantu pemerintah menyampaikan informasi sekaligus mendampingi masyarakat yang membutuhkan.

Pandangan tersebut menemukan relevansinya di tingkat masyarakat. Tenaga kesehatan memiliki kompetensi klinis, pemerintah memiliki kebijakan dan sumber daya, tetapi kader berada dekat dengan kehidupan warga sehari-hari.

Kader mengenal lingkungan. Mereka mengetahui bagaimana menyampaikan pesan kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami. Mereka juga dapat menjadi penghubung ketika seseorang membutuhkan informasi atau dorongan untuk memeriksakan diri.

Sementara itu, Untung Ardiyanto menegaskan bahwa penanggulangan TBC membutuhkan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Masyarakat diharapkan tidak ragu memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC.

Pesan tersebut penting karena masih terdapat stigma terhadap TBC. Padahal, TBC bukan penyakit akibat kutukan, bukan pula penyakit keturunan. TBC merupakan penyakit menular yang dapat menyerang siapa saja dan dapat disembuhkan apabila ditangani dengan tepat.

Maka, orang yang mengalami TBC tidak seharusnya dijauhi atau dipermalukan. Yang dibutuhkan adalah dukungan agar ia mendapatkan diagnosis, pengobatan, dan pendampingan secara benar.

Temukan, Obati, Sampai Sembuh

Dalam upaya penanggulangan TBC, masyarakat mengenal prinsip TOSS TBC—Temukan dan Obati Sampai Sembuh.

Maknanya jelas: jangan menunggu penyakit menjadi berat untuk bertindak.

Ketika seseorang mengalami gejala yang mengarah pada TBC, langkah yang tepat adalah segera berkonsultasi dan menjalani pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan. Pemeriksaan dan diagnosis dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan metode yang sesuai kondisi pasien. Jika dinyatakan TBC, pengobatan harus dijalani sesuai regimen yang diberikan tenaga kesehatan dan tidak dihentikan hanya karena kondisi tubuh mulai membaik.

Menghentikan pengobatan secara sembarangan bukan pilihan bijak. Pengobatan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko kegagalan terapi dan munculnya resistansi obat, termasuk TBC resistan obat yang jauh lebih sulit ditangani.

Karena itu, pasien membutuhkan lingkungan yang mendukung. Keluarga dapat membantu mengingatkan jadwal pengobatan, memastikan pasien memperoleh informasi yang benar, serta memberikan dukungan psikologis agar tidak merasa sendirian dalam proses penyembuhan.

Di titik inilah kader kesehatan kembali memainkan peran penting.

Mereka bukan pengganti tenaga medis. Namun, mereka dapat menjadi jembatan antara layanan kesehatan dan kehidupan masyarakat.

Mencegah Lebih Baik daripada Menunggu

Pencegahan TBC juga tidak berhenti pada satu kegiatan sosialisasi.

Masyarakat dapat membangun kebiasaan sederhana yang mendukung pengendalian penularan, antara lain menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika diperlukan, menjaga sirkulasi udara, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mengonsumsi makanan bergizi, tidak merokok, serta segera mencari pertolongan kesehatan ketika mengalami gejala yang mencurigakan. Kementerian Kesehatan juga mencantumkan imunisasi BCG bagi bayi sebagai salah satu upaya pencegahan untuk mengurangi risiko penyakit TBC yang berat.

Bagi orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC atau termasuk kelompok tertentu yang berisiko, tenaga kesehatan dapat melakukan penilaian lebih lanjut dan, bila memenuhi kriteria, memberikan terapi pencegahan TBC.

Artinya, perang melawan TBC memiliki banyak pintu masuk: pencegahan, deteksi dini, pengobatan, pendampingan, hingga penghapusan stigma.

Semua pintu itu membutuhkan masyarakat.

Kalurahan Sehat, Indonesia Kuat

Tema “Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat” menemukan maknanya ketika diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.

Indonesia yang kuat tidak hanya dibangun melalui pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kemajuan teknologi. Indonesia yang kuat juga dibangun dari masyarakat yang mampu menjaga kesehatan dirinya, keluarganya, dan lingkungan sekitarnya.

Karena itu, upaya mengakhiri TBC harus ditempatkan sebagai gerakan bersama.

Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis sendiri menempatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, serta masyarakat sebagai bagian dari upaya penanggulangan TBC. Regulasi tersebut mengatur strategi nasional eliminasi TBC, koordinasi, peran masyarakat, pemantauan, evaluasi, pelaporan, dan pendanaan.

Dengan demikian, kegiatan di Balai Kalurahan Sumberejo bukan sekadar acara penyuluhan. Ia merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa kesehatan masyarakat membutuhkan kerja lintas sektor.

Dinas kesehatan membawa pengetahuan dan kebijakan kesehatan. Puskesmas menjalankan pelayanan dan penanganan. Pemerintah kalurahan dapat mendukung mobilisasi masyarakat. DPRD menjalankan fungsi representasi dan penguatan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat. Kader menjadi penghubung di tingkat komunitas. Bahkan perpustakaan dapat menjadi ruang literasi kesehatan yang memperluas akses masyarakat terhadap informasi yang benar.

Ketika semua unsur bergerak dalam arah yang sama, TBC tidak lagi menjadi persoalan individu.

Ia menjadi tanggung jawab bersama.

Mengakhiri TBC Dimulai dari Kepedulian

Ada satu hal yang sering dilupakan dalam pembicaraan tentang penyakit menular: sebuah program kesehatan tidak akan berhasil apabila masyarakat hanya menjadi penonton.

Masyarakat harus menjadi bagian dari solusi.

Seorang warga yang berani memeriksakan batuk berkepanjangan adalah bagian dari solusi. Keluarga yang mendukung pasien menyelesaikan pengobatan adalah bagian dari solusi. Kader yang memberikan edukasi adalah bagian dari solusi. Pemerintah yang memastikan layanan tersedia adalah bagian dari solusi. Tenaga kesehatan yang menemukan dan menangani kasus dengan tepat juga bagian dari solusi.

Dengan kata lain, mengakhiri TBC dapat dimulai dari tindakan yang sangat sederhana: peduli.

Peduli terhadap batuk yang tidak kunjung sembuh. Peduli terhadap anggota keluarga yang mengalami penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Peduli terhadap tetangga yang membutuhkan informasi. Peduli untuk tidak menyebarkan stigma. Dan yang paling penting, peduli untuk memastikan seseorang yang sakit mendapatkan pengobatan hingga tuntas.

WHO menegaskan bahwa TBC dapat dicegah dan disembuhkan. Namun, dunia masih menghadapi pekerjaan besar untuk mencapai target eliminasi TBC.

Maka, perjuangan itu tidak boleh hanya berlangsung di ruang konferensi atau meja birokrasi. Ia harus hadir di rumah-rumah, Di posyandu, Di sekolah, Di tempat kerja, Di lingkungan padukuhan dan seperti yang terlihat di Kalurahan Sumberejo, perjuangan itu dapat dimulai dari sebuah balai kalurahan.

Sebab ketika satu orang berani mengenali gejala, satu keluarga berani mencari pertolongan, satu kader berani mengedukasi, dan satu komunitas berani menghapus stigma, sesungguhnya sebuah mata rantai penularan sedang diputus.

TBC mungkin masih menjadi tantangan besar. Tetapi masyarakat yang teredukasi, peduli, dan bergerak bersama adalah kekuatan yang jauh lebih besar.

Dari Sumberejo, pesan itu sederhana:

Kenali TBC. Cegah penularannya. Temukan kasusnya. Obati dengan benar. Dukung hingga sembuh.  

Karena masyarakat sehat bukan sekadar cita-cita—ia adalah fondasi Indonesia yang kuat.

 

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Komentar Terkini
  • WAHYU WIDAYAT
    Pemerintah Kalurahan Sumberejo melalui Bp Ibu duku...baca selengkapnya
    07 April 2021 12:05:40 WIB
Galeri Foto
Statistik Kunjungan
Hari ini
Kemarin
Total Visitor
Media Sosial