Sadranan Gunungwijil 2026: Warga Sambirobyong dan Pabregan Lestarikan Jejak Leluhur
RIFKI ARI ANSYAH 13 Februari 2026 14:27:14 WIB
Sumberejo ( Jum'at, 13/02/2026 ). Tradisi adat Sadranan Gunungwijil kembali digelar oleh masyarakat Padukuhan Sambirobyong dan Pabregan pada Jumat, 13 Februari 2026. Kegiatan berlangsung khidmat di lokasi makam Mbah Menggung Kerto Manten, tokoh dan leluhur yang dihormati warga Sambirobyong dan sekitarnya. Momentum ini menjadi wujud pelestarian budaya sekaligus penguatan nilai kebersamaan antarwarga.
Adat sadranan merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Jawa dalam rangka mendoakan para leluhur serta mempererat tali silaturahmi. Di Gunungwijil, tradisi ini dilaksanakan dengan doa bersama, tahlil, serta kenduri sederhana yang diikuti warga dari dua padukuhan. Sejak pagi hari, masyarakat berbondong-bondong menuju lokasi makam dengan membawa ubarampe dan makanan untuk didoakan bersama.
Tokoh sentral yang diziarahi dalam kegiatan ini adalah Mbah Menggung Kerto Manten, yang dikenal sebagai cikal bakal dan panutan masyarakat di wilayah Sambirobyong. Makam beliau yang berada di kawasan Gunungwijil menjadi simbol sejarah dan identitas lokal bagi warga setempat.
Dukuh Sambirobyong, Munawiril Isbah, dalam keterangannya menyampaikan harapan agar Pemerintah memberikan perhatian terhadap keberlangsungan tradisi ini. Menurutnya, kondisi lokasi nyadran Gunungwijil saat ini sudah kurang layak dan membutuhkan penataan serta perbaikan sarana prasarana.
“Kami berharap Pemerintah dapat memberikan perhatian, karena lokasi Nyadran Gunungwijil sudah tidak layak. Padahal ini adalah warisan budaya dan sejarah masyarakat kami,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dukungan pemerintah sangat diperlukan demi menjaga kelestarian adat sekaligus memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat yang mengikuti kegiatan.
Sadranan Gunungwijil bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi ruang memperkuat nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta menjaga identitas budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Melalui perhatian dan kolaborasi berbagai pihak, tradisi ini diharapkan terus lestari dan semakin tertata dengan baik di masa mendatang.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Sadranan Gunungwijil 2026: Warga Sambirobyong dan Pabregan Lestarikan Jejak Leluhur
- Kenapa di Yogyakarta Baju Gagrak Dipakai pada Kamis Pon?
- Tradisi Kenduri Ruwahan Digelar Serentak di Setiap Padukuhan Kalurahan Sumberejo
- Monev Bibit Jahe ke 8 KWT Padukuhan
- LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN REALISASI APBKAL TA. 2025 KAL. SUMBEREJO
- Perubahan data kependudukan, baik pada Kartu Keluarga (KK) maupun Kartu Tanda Penduduk (KTP).
- Pelayanan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Baru















